fisiologi hewan

PRAKTIKUM III
EKSKRESI
A. Tujuan :
• Memeriksa kandungan glukosa, albumin, khlorida dalam urin
• Mengenal bau ammonia dari hasil penguraian urea dalam urin
• Membuktikan kandungan urea dalam urin
B. Dasar Teori
Sistem Ekskresi merupakan sistem yang berperan dalam proses pembuangan zat-zat yang sudah tidak diperlukan (zat sisa) ataupun zat-zat yang membahayakan tubuh dalam bentuk larutan. Ekskresi terutama berkaitan dengan pengeluaran senyawa-senyawa nitrogen. Selama proses pencernaan makanan, protein dicernakan menjadi asam amino dan di absorbs oleh darah, kemdian digunakan oleh sel-sel tubuh untuk membentuk protein-protein baru. Di dalam tubuh vertebrata, asam amino yang berlebihan akan dirombak menjadi ammonia dan di ekskresikan lewat ginjal sebagai senyawa-senyawa ammonium sulfat, ammonium fosfat, urea asam urat atau trimethylamine, semua zat sisa yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh sebagian akan di keluarkan bersama urin.
Manusia memiliki organ atau alat ekskresi yang berfungsi membuang zat sisa hasil metabolisme. Zat sisa hasil metabolisme merupakan sisa pembongkaran zat makanan, misalnya: karbondioksida (CO2), air (H2O), ammonia (NH3), urea, dan zat warna empedu. Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dan harus di keluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan penyakit. Organ atau alat ekskresi pada manusia terdiri dari: Paru-paru; Hati; Kulit; Ginjal (Campbell, 2004).
Osmoregulasi erat sekali hubungannya dengan sistem ekskresi. Pengaturan osmosis dalam tubuh manusia terjadi melalui banyak sedikitnya air yang dibuang melalui keringat dan urin. Kehilangan air karena penguapan diatasi dengan reabsorpsi air. Hal ini dapat terjadi karena lengkung henle ukurannya relative panjang sehingga penyerapannya air oleh ginjal bertambah selain itu konsentrasi ADH tinggi (Pratiwi, D.A, 2004).
Proses pembentukan urin dalam ginjal dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap filtrasi (penyaringan), tahap reabsorpsi (penyerapan kembali), dan augmentasi (pengeluaran zat) (Pratiwi, D.A, 2004).
• Penyaringan (Filtrasi)
Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapiler glomerulus, sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan, selain penyaringan di glomerulus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel darah , keeping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan yang kecil terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, dan urea dapat melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrate glomerulus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya (Djamhur,1985).
• Penyerapan kembali
Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urine primer akan di serap kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya zat-zat pada tubulus ini melalui dua cara yaitu gula dan asam amino yang meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksinal dan tubulus distal substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino dikembalikan lagi ke darah. Zat ammonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam dan bahan lain pada filtrate di keluarkan bersama urin, stelah terjadi reabsorpsi maka tubulus mengasilkan urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi, Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolism yang bersifat racun bertambah misalnya urea (Djamhur, 1985).
• Augmentasi
Urin sekunder dari tubulus kontortus distal akan turun menuju tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul ini masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urin sesungguhnya. Dari tubulus pengumpul, urin di bawa ke pelvis renalis, dari pelvis renalis, urin mengalir melalui ureter menuju vesika urinaria (kandung kemih) yang merupakan tempat penyimpanan sementara urin (Pratiwi, D.A, 2004).
Hal-hal yang mempengaruhi produksi urin yaitu :
• Zat-zat dieurtik
Misalnya terdapat pada kopi, the, dan alcohol maka zat tersebut akan menghambat reabsorpsi ion Na+.
• Suhu
Jika suhu internal dan external naik di atas normal maka kecepatan respirasi meningkat dan pembuluh kutaneus melebar sehingga cairan tubuh berdifusi dari kapiler ke permukaan kulit
• Konsentrasi darah
Konsentrasi air dan larutan di dalam darah berpengaruh terhadap produksi urin, jika kitak tidak minum seharian maka konsentrasi air di darah menjadi rendah.
• Emosi
Emosi tertentu dapat merangsang peningkatan dan penurunan volume urin (Pratiwi, D.A 2004).
C. Alat dan Bahan
Alat Bahan
Tubing Reaksi Sampel urin
Pipet tetes Larutan Benedict
Bunsen Larutan AgNO3 10%
Kaca objek Asam Oksalat
Asam nitrit pekat
Larutan Hipobromida



D. Cara Kerja
• Glukosa dalam urin
2,5 ml larutan benedict dalam tabung reaksi

didihkan dan tambah 4 tetes urin

panaskan lagi kemudian amati endapannya.

Hasil
• Albumin dalam urin
1,5 asam nitrat

masukkan urin 10 tetes

tutup tabung dengan kertas putih

miringkan tabung reaksi

Hasil
• Klorida dalam urin
urin 3 ml dalam tubing reaksi

tambahkan AgNO3 sebanyak 5 tetes

amati endapan putih yang terjadi

hasil
• Amonia dalam urin
1 ml urin dalam tabung reaksi

panaskan di atas Bunsen

cium baunya
0 Responses