genetika

PRAKTIKUM VI
PEWARISAN SIFAT YANG DIKENDALIKAN
OLEH GEN MAJEMUK(POLIGEN)
A. Tujuan
Merinci prosedur untuk mengidentifikasi pola dan jumlah sulur jari tangan dan penentuan sidik jari tangan.
B. Dasar Teori
Diketahui bahwa sifat dikendalikan oleh sepasang alel pada suatu lokus gen. Namaun pada kenyataannya banyak sifat yang dikendalikan oleh lebih dari satu gen pada lokus yang berbeda dalam kromosom yang sama atau bahkan dalam kromosom yang berlainan, fenomena ini dinamakan poligen atau gen majemuk.
Susunan rigi pada epidermis dapat di amati pada telapak tangan, jari tangan, telapak kaki, tetapi yang paling mudah di amati adalah jari tangan. Pembentukan rigi dermal ini terjadi pada fetus usia 3 sampai 4 bulan dalam kandungan. Dan apabila sudah terbentuk sempurna maka polanya tidak akan berubah selama hidup.
Sidik jari adalah gambaran yang menunjukkan aur-alur pada ujung jari manusia. Gambaran ini bias di dapat dengan cara menyentuhkan ujung jari pada tinta atau zat warna lainnya, kemudian di tempelkan pada kertas atau media lain yang dapat mencetak gambar. Setiap orang memiliki sidik jari berbeda-beda, bahkan orang kembar identik sekalipun, karena itu sidik jari bias menjadi sarana identifikasi seseorang yang paling aman. Mengapa demikian? Karena sidik jari tidak dapat di palsukan oleh orang lain. Berbeda dari identifikasi berupa tanda tangan yang sangat mudah di palsukan. Sir Richard Edward Henry, berkat dirinya dalam usaha mengelompokkan pola sidik jari tapi bukanlah penemu teknik atau metode sidik jari (Muchlisin, 2009).
Sidik jari terdiri atas garis-garis timbul pada kulit yang berbeda di atas pori-pori keringat. Garis-garis itu memanjang, membelok, bercabang, beranting, dan mengambil bentuk tertentu pada setiap orang. Telah terbukti bahwa di dunia ini tidak ada dua sisdik jari yang sama, bahkan antar saudara kembar yang berasal dari satu sel telur sekalipun (Fuad, 2004).
Sir Francis Galton telah membuktikan pada tahun 1982 bentuk sidik jari akan tetap hidup bersama pemiliknya dan tidak akan berubah (Fuad, 2004).
Sidik jari yaitu pola guratan-guratan menonjol yang khas pada ujung jari manusia bersifat unik bagi setiap individu. Jari tangan dan kaki, serta telapak tangan dan kaki dipenuhi guratan-guratan teratur yang membentuk suatu pola. Istilahnya ‘Dermatoglifik’ dipakai untuk konfigurasi guratan-guratan tersebut. Jika diperhatikan dengan cermat, akan terlihat adanya guratan-guratan tipis, yang berbeda dengan lipatan kulit. Pada ujun-ujung jari terdapat tiga pola dasar, yaitu garis melengkung (Arch), garis melingkar (Loop), dan garis memutar (Whorl). Garis-garis melingkar di bagi menjadi 2 kelompok yaitu ulnar dan radial dari tangan. Perpotongan guratan-guatan membentuk segitiga yang disebut triradius, dan triradius ini tidak hanya terdapat pada ujung-ujung jari, tetapi juga pada pangkal jari, biasanya pada telapak tangan (Proksimal). Pola guratan-guratan sidik jari tidak hanya bermanfaat untuk identifikasi tetapi bias untuk menemukan abnormalitas dermatoglifik yang khas yang sering sekali berhubungan dengan banyak kelainan kromosom (Brown,2005).
Frekuensi pola sulur ini berbeda utuk setiap bangsa, juga berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Pada populasi kulit putih dan kulit hitam bnanyak dijumpai pola loop, sedangkan whorl banyak dijumpai pada populasi bangsa Mongoloid, populasi penduduk Australia dan populasi bangsa Melanesia dan Pasifik. Pola arch paling sedikit ditemukan untuk semua populasi baangsa, biasanya kurang dari 10 %. Hanya pada populasi Bushman (Bangsa Negroid yang hidup di Afrika Selatan) pola arch dijumpai lebih dari 10 %. Dalam populasi rata-rata pola arch dijumpai 5%, pola loop 65-75% dan whorl 25-30%.
Metode ini melibatkan perhitungan jumlah rigi mulai dari triradius sampai pusat rigi. Oleh karena itu pola arch jumlah rigi adalah nol. Jika ada dua triradius, maka rigi dari semua jari tangan dijumlahkan sehingga disebut total finger ridge count. Pada perempuan jumlah rigi rata-rata 127 dan laki-laki 144.
Sidik jari adalah hasil reproduksi tapak jari baik yang sengaja diambil, dicapkan dengan tinta, maupun bekas yang ditinggalkan pada benda karena pernah tersentuh dengan kulit telapak tangan/kaki. Kulit telapak adalah kulit pada bagian telapak tangan mulai dari pangkal pergelangan sampai kesemua ujung jari dan kulit bagian dari telapak kaki mulai dari tumit sampai ke ujung jari yang mana pada daerah tersebut terdapat garis halus menonjol yang keluar satu sama lain yang dipisahkan oleh celah/alur yang membentuk lukisan tertentu. Kulit tapak terdiri dari dua lapisan:
• Lapisan dermal adalah kulit jangat/kulit yang sebenarnya. Kulit inilah yang menentukan garis yang ada pada permukaan kulit telapak.
• Lapisan epidermal adalah lapisan kulit luar/garis papilar. Garis inilah yang menjadi perhatian kita untuk menentukan bentuk pokok perumusan dan perbandingan sidik jari. Jenis sidik jari dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Visible impression adalah sidik jari yang dapat langsung dilihat tanpa menggunakan alat bantu.
2. Laten impression adalah sidik jari yang biasanya tidak dapat dilihat langsung tetapi harus menggunakan beberapa cara pengembangan terlebih dahulu supaya dapat nampak lebih jelas.
3. Plastic impression adalah sidik jari yang berbekas pada benda yang lunak seperti sabun, gemuk, permen, coklat. Sedangkan untuk sidik jari yang mengalami kerusakan atau cacat dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Cacat sementara adalah cacat pada bagian kulit luar (epidermal) dan garis yang cacat/rusak tersebut dapat sembuh kembali seperti semula
2. Cacat tetap adalah cacat yang disebabkan ikut rusaknya garis sampai lapisan dermal. Sidik jari yang cacat tetap atau sementara biasanya tidak akan mempengaruhi identifikasi terhadap jari kecuali apabila sidik jari rusak sama sekali. Ada tiga dalil atau aksioma yang melandasi daktiloskopi (ilmu sidik jari), yaitu:
3. Sidik jari setiap orang tidak sama.
4. Sidik jari manusia tidak berubah selama hidup.
5. Sidik jari dapat dirumuskan dan diklasifikasikan secara matematis (http://santai2008.wordpress.com/2010/05/02/daktiloskopi-ilmu-sidik-jari/).
Ada tiga bentuk sidik jari yaitu busur (arch), sangkutan (loop), dan lingkaran (whorl). Bentuk pokok tersebut terbagi lagi menjadi beberapa sub-group, yaitu bentuk busur terbagi menjadi plain arch dan tented arch, bentuk sangkutan terbagi menjadi ulnar loop dan radial loop, sedangkan bentuk lingkaran terbagi menjadi plain whorl, central pocket loop whorl, double loop whorl, dan accidental whorl. Perbedaan utama dari ketiga bentuk pokok tersebut terletak pada keberadaan core dan delta pada lukisan sidik jarinya.
(http://santai2008.wordpress.com/2010/05/02/daktiloskopi-ilmu-sidik-jari/).
Keberadaan titik fokus di dalam sidik jari akan berperan penting dalam menentukan termasuk klasifikasi apa sidik jari tersebut. Dalam pengklasifikasian dikenal dua jenis titik fokus yaitu delta yang merupakan titik fokus luar (outer terminus) dan core yang merupakan titik fokus dalam (inner terminus). Tidak semua sidik jari memiliki titik fokus tergantung jenis/klasifikasi dari sidik jarinya.
Delta yang sebenarnya pada sidik jari adalah titik/garis yang terdapat pada pusat perpisahan garis type lines. Delta merupakan titik fokus yang terletak di depan pusat berpisahnya garis pokok (type lines). Garis pokok lukisan merupakan dua buah garis yang paling dalam dari sejumlah garis yang berjajar (paralel) dan memisah serta (cenderung) melingkupi pokok lukisan (pattern area). Pokok lukisan adalah daerah/ruangan putih yang dikelilingi oleh garis type lines yang mana ruangan tersebut merupakan tempat lukisan garis sidik jari. Pada kenyataannya tidak semua sidik jari memiliki delta tetapi ada juga sidik jari yang memiliki lebih dari satu delta (http://santai2008.wordpress.com/2010/05/02/daktiloskopi-ilmu-sidik-jari/).
C. Alat dan Bahan

Alat Bahan
Kaca Pembesar Tinta stempel
Bak stempel Kertas tulis
Daftar Pustaka
Brown, Graham. 2005. Dermatologi Edisi 8. Erlangga: Jakarta
Campbell.2003. Biologi. Erlangga : Jakarta
Muchlisin, Badiatul. 2009. 105 Tokoh Penemu dan Perintis Dunia. NARASI : Yogyakarta
Fuad, Ahmad. 2004. Dimensi sains Al-quran menggali ilmu pengetahuan dari Al-quran. Tiga serangkai : Solo
Daftar Sumber
http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/1960552-rahasia-sidik-jari/_
http://santai2008.wordpress.com/2010/05/02/daktiloskopi-ilmu-sidik-jari/

genetika

PRAKTIKUM V
MODEL PERBANDINGAN GENETIK MENURUT MENDEL
A. Tujuan
• Membuktikan perbandingan mendel 1:2:1 untuk rasio genotif dan 3:1 untuk rasio fenotif pada persilangan monohybrid, serta perbandingan 9:3:3:1 pada persilangan dihibrid.
• Menghitung x2 untuk menguji data hasil pengamatan
• Menginterprestasi nilai x2 setelah dibandingkan dngan x2 pada tabel.
B. Dasar teori
Prinsip segregasi secara bebas dapat dibuktikan dengan menggunakan satu jenis organism yang dikawinkan dan mengamati tanda beda pada organism tersebut. Persilangan antara generasi F1 akan menghasilkan generasi F2 yang terdiri dari dua macam fenotif dengan rasio 3:1 atau tiga macam genotif dengan rasio 1:2:1.
Monohibrid yaitu suatu percobaan persilangan yang menggunakan varietas-varietas yang induknya hanya berbeda dalam satu sifat (Campbell, 2003).
Gregor Mendel memperoleh hokum segregasi dengan melakukan penyilangan monohybrid, percobaan pengembangbiakan dengan menggunakan varietas parental yang berbeda dalam sebuah karakter, misalnya warna bunga, apakah yang mungkin terjadi pada suatu perkawinan antara induk yang berbeda varietas dalam dua karakter suatu penyilangan selama menyangkut karakter individual, perilaku segregasi akan sama seandainya ini adalah penyilangan monohybrid (Campbell, 2002).
Hukum pewarisan mendel adalah hokum mengenal pewarisan sifat pada organism yang dijabarkan oleh gregor mendel dalam karyanya percobaan mengenal persilangan tanaman. Hukum ini terdiri dari dua bagian yaitu:
1. Hukum Pemisahan (Segregation) atau Hukum Mendel I
2. Hukum Berpasangan Bebas ( Independent assortment ) atau Hukum Mendel II
Hukum Mendel I = Hukum Segregasi
Alel memisah segregasi satu dari yang lain selama pembentukan gamet dan diwariskan secara berdampingan ke dalam gmet-gamet yang sama jumlahnya. Sebagai dasar segregasi satu pasang alel terletak pada lokus yang sama dari kromosom homolog. Kromosom homolog ini memisah secara bebas pada anaphase I dari meiosis dan tersebar ke dalam gamet-gamet yang berbeda. Hukum ini di buktikan dengan persilangan monohybrid (Yunus Rosman, 2006).
Mekanisme pewarisan melalui persilangan oleh mendel menunjukkan kenyataan tentang factor dari gen-gen dalam kromosom bahwa:
1. Gen –gen berada dalam keadaan berpasangan (alel)
2. Gen-gen memisah dalam sel kelamin, salah satu alel menuju salah satu sel kelamin.
3. Gen tersusun secara rambang (berdampingan) dalam sel kelamin.
4. Sifat gen tetap dari generasi ke generasi (Yunus Rosman, 2006).
Persilangan dihibrid merupakaan eksperimen persilangan dimana dikawinkan varietas induk yang berbeda dalam dua sifat (Campbell, 2003).
Hukum mendel II disebut juga pengelompokkan secara bebas pasangan gen berbeda yang sedang segregasi akan memisah dan mengelompok secara bebas (Yunus Rosman, 2006).
Hukum ini dibuktikan dengan percobaan pesilangan dengan dua atau lebih tanda beda atau sifat yang dapat dikenal yang menghasilkan kesimpulan :
1. Faktor alel yang mengatur karakter yang berbeda memisah secara bebas ketika terbentuk gamet.
2. Apabila dua pasang gen yang tidak betaut terdapat dalam hibrida dengan fenotip pada F2 =9:3:3:1
3. Uji silang dihibrida menghasilkan perhitungan 1:1:1:1:1
4. Makin banyak jumlah gen, makin banyak jumlah kelas fenotip dan genotip pada F2
5. Metode garis cabang dalam analisis genetic menyederhanakan penentuan kelas-kelas fenotip dan genotip (Yunus Rosman, 2006).
Hukum mendel membuktikan bahwa setiap spesies hanya dapat menurunkan spesiesnyang sama (Yunus Rosman, 2006).
Percobaan mendel dapat diikuti secara genetic seperti diagram perkawinan pada gambar di bawah ini :
P = ♀ tt x ♂ TT

gamet t T
F1 Tt
Perbandingan genotif Tt 100% dan Fenotif Tinggi 100%

F1 x F1 ♀ Tt x ♂Tt

Gamet T, t T,t
F2
♀∕♂ T t
T TT tinggi Tt tinggi
t Tt tinggi tt pendek
Perbandingan genotif TT: Tt : tt = 75 % : 25%
Fenotif Tinggi : Pendek = 75% : 25%
Anggota dari sepasang gen yang yang memiliki pengaruh berlawanan disebut alel. Misalnya T menentukan sifat tinggi batang, sedangkan t menentukan batang kerdil. Maka T dan t merupakan alel (Suryo,2008).
Hasil perkawinan antara dua individu yang mempunyai sifat beda dinamakn hybrid, jadi tanaman F1 pada contoh di atas merupakan pada contoh di atas merupakan hybrid. Berdasarkan banyaknya sifat beda yang terdapat pada suhu individu, dapat dibedakan :
Monohibrid = Suatu hybrid dengan satu sifat beda (Aa)
Dihibrid = Suatu hybrid dengan dua sifat beda (AaBb)
Trihibrid = Suatu hybrid dengan tiga sifat beda (AaBbCc).

C. Alat dan Bahan

Macam Persilangan Alat
Monohibrid Kancing genetika 2 warna masing-masing @50 pasang
Dihibrid Kancing genetika 4 warna masing- masing @25 pasang


D. Cara Kerja

a. Persilangan Monohibrid










b. Persilangan dihibrid






Daftar Pustaka
Campbell. 2003. Biologi Jilid 1 Edisi 5. Erlangga: Jakarta
Suryo,Ir. 2008. Genetika Strata 1. Universitas Gajah Mada Press: Yogyakarta
Yunus, Rosmaana Dr. 2006. Teori Darwin Menurut Pandangan Sains dan Islam. Prestasi : Depok
http://wikipedia.id.org/10-05-2010

genetika

KEANEKARAGAMAN HEWAN, TUMBUHAN DAN MANUSIA

A. Tujuan
 Mendeskripsikan hasil pengamatan tentang berbagai variasi pada hewan atau tumbuhan, menyimpulkan dan mengkomunikasikan hasil pengamatan.
 Mengamati variasi sifat pada manusia, khususnya sifat-sifat fisik (fenotip).
 Membandingkan persamaan dan perbedaan sifat yang terbanyak dalam populasi kelas.
 Membuat model cakram genetika berdasarkan hasil pengamatannya.
B. Dasar Teori
Perbedaan antara makhluk hidup tersebut sangat beragam, misalnya perbedaan bentuk tubuh, alat gerak, cara memperoleh makanan, cara berkembang biak, dan tempat hidup. Bila diamati, ada hewan yang berkaki empat (kucing) dan ada yang berkaki dua (ayam). Ada hewan yang berambut (simpanse) dan ada yang bersisik (ikan). Pada tumbuhan ada yang berukuran tinggi (pohon kelapa) dan ada yang berukuran pendek (rumput teki) (Diah Aryulina, 2004).
Keanekaragaman hewan, tumbuhan, dan manusia disebut keanekaragaman hayati ditunjukkan dengan danya variasi makhuk hidup terdapat pada tingkat gen, spesies, dan ekosistem. Keseluruhan variasi pada ketiga tingkat tersebut membentuk keanekaragaman hayati (Diah Aryulina, 2004).
1. Keanekaragaman Gen
Keanekaragaman hasil perkawinan gen yang baru yang berasal dari kedua induknya. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi gen dari dua individu menyebabkan keanekaragaman gen (Oman Karmana, 1999).
Gen adalah factor pembawa sifat keturunan yang terletak dalam kromosom. Kromosom terdapat dalam inti sel. Gen setiap makhluk hidup mempunyai bhan dasar yang sama, namun susunannya berbeda. Susunan gen yang beranekaragam menentukan keanekaragaman gen suatu spesies makhluk hidup. Jadi, keanekaragaman gen adalah variasi susunan gen dalam suatu spesies. Keanekaragaman gen dalam satu spesies makhluk hidup yang menimbulkan variasi disebut varietas. Keanekaragaman gen dapat terjadi secara alami akibat perkawinan seksual, maupun secara buatan dengan proses budidaya manusia. Hewan dan ttumbuhan tertentu dibudidayakan untuk diambil manfaatnya, misalnya persilangan tanaman anggrek untuk mendapatkan warn anggrek yang beraneka ragam (Diah Aryulina, 2004).
Gen dianggap sebagai kesatuan terkecil (di dalam sel yang berperan menentukan hereditas). Ada tiga komponen penyusun yaitu rekon, muton, dan sistron. Sifat gen itu mengandung informasi genetic, dapat menduplikasi diri, dan menduduki tempat tertentu dalam kromosom (Pratiwi,2004).
2. Keanekaragaman Jenis ( Spesies)
Keanekaragaman jenis memiliki peran yang penting agar makhluk hidup tidak mengandung kemusnahan. Variasi terjadi pada jenis yang melakukan reproduksi seksual (Reproduksi secara generatif) (Oman Karmana, 1999).
Keanekaragaman spesies biasanya dijumpai pada suatu tempat tertentu yang dihuni kumpulan makhluk hidup dari berbagai spesies (komunitas), misalnya di halaman rumah dapat di jumpai rumput, pohon mangga, dan sebagainya (Diah Aryulina, 2004).
Keanekaragaman Jenis antara lain disebabkan oleh keanekaragaman individu penyusun populasi, keanekaragaman geografis, persilangan (hibridasi), dan adaptasi (Oman Karmana, 1999).
Pengaruh keanekaragaman geografis pada hewan antara lain dapat di lihat dari ukuran dan anggota tubuhnya. Ukuran tubuh dan anggota tubuh mamalia yang hidup pada daerah tropic. Persilangan antara individu pada spesies yang sama dengan kandungan perangkat dengan induknya. Variasi yang terjadi bergantung dari sifat gen. Adaptasi juga merupakan salah satu faltor terjadinya keanekaragaman jenis (Diah Aryulina, 2004).
3. Keanekaragaman Ekosistem
Makhluk hidup yang beranekaragaman berinteraksi dengan lingkungan dan sesamanya yang merupakan lingkungan biotic hidup selain berinteraksi dengan sesamanya dengan sesame makhluk; juga berinteraksi dengan lingkungan abiotik (tidak hidup) seperti air, tanah, cahaya, matahari, suhu, kelembapan dan mineral. Kombinasi factor-faktor lingkungan yang beranekaragaman. Interaksi antara lingkungan abiotik tertentu dengan sekumpulan jenis-jenis makhluk hidup menunjukkan adanya keragaman ekosistem. Masing-masing ekosistem memiliki jenis tumbuhan dan hewan yang berbeda (Oman Karmana, 1999).
Sebuah masyarakat dimana kelompok individu berambut cokelat dan bermata cokelat lebih dominan, dibandingkan individu berambut pirang dan bermata biru. Lama-kelamaan, sebagai hasil perbauran dan pernikahan silang, dhasilkan keturunan berambut coklat dan bermata biru. Dengan perkataan lain, cirri-ciri fisik kedua kelompok itu akan bergabung dalam keturunan berikutnya dan menghasilkan penampilan baru. Bila kita bayangkan cirri fisik lainnya berpadu seperti itu sangatlah jelas bahwa akan muncul variasi yang sangat beragam (Mujianto, 1997).
Tidak ada individu yang sama persis. Hal ini disebabkan oleh adanya variasi organism dari spesies yang sama atau keanekaragaman jenis. Perbedaan yang ada di antara individu ditentukan oleh factor genetic dan lingkungan, akibatnya individu yang bergenotif sama kemungkinan dapat memiliki fenotif yang berbeda (Oman Karmana, 1999).

C. Alat dan Bahan
NO Alat Bahan
1 Alat Tulis Bunga Mawar
2 Meteran Bunga Geranium
3 Kamera Aglonema
4 Bunga Krisan
5 Kucing
6 Hamster
7 Burung merpati
8 Ikan mas
9 Manusia

D. Cara Kerja
a. Keanekaragaman Hewan dan Tumbuhan

Menentukan bahan yang akan di gunakan

Amati sifat yang ada, meliputi warna, ukuran, dan cirri khas

Cari variasi yang ada

Catatlah hasil pengamatan

buatlah foto dari variasi sifat

Hasil
b. Keanekaragaman Manusia

Lakukan candra pada sifat-sifat yang tampak

Minimal 8 sifat pada setiap anggota kelompok

Catat hasil pencandraan pada table yang tersedia

Tentukan kemungkinan genotif

Buatlah cakram genetika

Tiap individu warnanya berbeda

Tentukan angka indeks dari setiap anggota

Hasil







Daftar pustaka
Dwidjoseputro.1974. Pengantar Genetika. depdikbud: Jakarta
Aryulina, Diah.dkk.2004. Biologi SMA Untuk kelas X. Erlangga: Jakarta
Karmana, Oman. 1999 Biologi jilid IA SMU kelas 1. Jakarta : Grafindo
D.A. Pratiwi dkk.2006. Buku Penuntun Biologi SMA kelas X. Jakarta : Erlangga

Anatomi tumbuhan

SEL TUMBUHAN
Organisasi tumbuhan dapat ditinjau dari berbagai taraf. Yang paling dasar adalah makromulekul seperti protein, asam nukleat, dan karbohidrat. Sintesisnya berlangsung secara terkendali sehingga molekul berstruktur tepat dibentuk pada saat dan tempat yang tepat pula. Molekul dirakit menjadi bagian sel yang disebut organel seperti nucleus, plastida, dan mitokondrion. Sel terhimpun dengan teratur menjadi jaringan dan berbagai jaringan terdapat dalam organ. Semua organ bersama-sama membentuk tanaman utuh.
Sel biasanya dianggap sebagai satuan fungsi organic terkecil dalam tumbuhan. Sel tumbuhan dibatasi dengan dinding sel dan di sebelah dalam batas itu terdapat zat tempat berlangsungnya reaksi kimia yang diperlukan untuk kehidupan sel.
Sel tumbuhan didefinisikan menurut Hartanto Nugroho dalam bukunya yang berjudul Struktur dan Perkembangan Tumbuhan yaitu sebagai unit dasar yang universal dari suatu struktur organic. Struktur yang membedakan sel tumbuhan lapisan terluar dari sel yang berbatasan dengan membrane sel. Dinding sel akan memberikan bentuk sel tumbuhan. Isi sel yang satu dengan yang lain dipisahkan oleh keberadaan dinding sel. Isolasi isi sel ini tidak komplit karena ada noktah (dinding sel yang tidak menebal) pada dinding sel juga adanya plasmodesmata di dalam noktah. Pada tumbuhan tingkat tinggi terdapat berbagai macam sel dengan variasi dalam hal fungsi, struktur, susunan, dengan kompleksitas struktur dinding sel yang juga bervariasi.
Sel dewasa mempunyai variasi dalam hal bentuk dan ukuran. Dalam hubungannya dengan fungsi, sel tumbuhan dapat berbentuk oval, elips, silinder, tubular, prismatic, seperti serat, atau bercabang. Ukuran sel juga sangat berhubungan dengan fungsinya. Sel dengan ukuran sangat kecil tidak biasa dijumpai pada tumbuhan.
Semua sel berkembang dari pembalahan sel induk atau masa protoplasma yang berinti. Pembelahan sel tumbuhan merupakan proses yang kompleks. Selama masa pembelahan, inti sel dan sitoplasma terbagi menjadi dua yang biasanya sama besar dan serupa. Pada masa pembelahan sel, dinding sel belum terbentuk, bahkan membrane plasma dan substansi interselular belum dapat dibedakan. Sesaat setelah pembelahan sel selesai, dinding sel mulai dapat dilihat pada bagian luar membrane sel.
Dalam penyusunan sel tumbuhan terdapat komponen yang terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu: Komponen protoplasmic atau komponen yang hidup dari sel dan Komponen non-protoplasmik atau komponen yang tidak hidup dari sel.
Komponen Protoplasmic didefinisikan menurut Estiti dalam bukunya Anatomi pertumbuhan berbiji yaitu sebagai isi sel hidup, dan tidak mencakup dinding sel. Protoplasma sebuah sel disebut protoplas.Protoplas dapat dibagi menjadi sitoplasma dan nucleus. Sitoplasma meliputi retikullum endoplasma, diktiosom, mitokondria, plastida, mikrobodi, ribosom, sferosom, mikrotubul, mikrofilamen, vakuola, dan zat ergastik. Dalam komponen protoplasmic yang merupakan komponen utama pada sel tumbuhan yaitu Plastida.
Plastida berupa benda kecil-kecil dengan bentuk yang bervariasi yang tersusun atas zat putih telur yang mempunyai struktur dan fungsi yang spesifik. Plastida berkembang dari proplastida. Kloroplas merupakan plastid yang paling umum diketahui sehubungan dengan fungsinya dalam proses fotosintesis. Berdasarkan warnanya, plastida dikelompokkan menjadi leukoplas dan kromatofora. Leukoplas (tidak berwarna), biasanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan. Sedangkan, kromatofora merupakan plastid yang mengandung pigmen.
Komponen non protoplasmic, berdasarkan sifatnya dapat dibedakan menjadi cair dan padat. Komponen non protoplasmic yang bersifat cair itu terdapat di dalam vakuola dan yang bersifat padat terdapat pada kristal kalsium oksalat, aleuron, dan amilum.
Vakuola hampir selalu merupakan organel yang paling besar volumenya pada sel tumbuhan dewasa. Vakuola sering menempati lebih dari 90% volume protoplas, serta membiarkan sisa protoplas, yakni sitoplasma, melekat pada dinding sebagai lapisan amat tipis. Tonoplas membatasi vakuola dan dalam vakuola terdapat cairan vakuola yang merupakan bagian terbesar protoplas. Pada sel meristem terdapat banyak vakuola kecil yang bersama-sama disebut vakuom. Cairan vakuola terdiri terutama dari air, namun di dalamnya bisa terlarut berbagai garam, protein, alkaloida, zat penyamak,dan zat warna.
Vakuola sangat penting dalam pertumbuhan sel, mensekresikan proton (H+) yang melemahkan dinding. Vakuola juga berlaku sebagai tempat menyimpan cadangan makanan. Semula dianggap bahwa vakuola terutama merupakan tempat penyimpanan produk sisa, yang pada tumbuhan tidak dapat dikeluarkan. Namun sekarang diketahui bahwa vakuola dapat berlaku sebagai tempat penyimpanan sementara yang aktif dan tak terkendalikan bagi bahan berguna, terutama kalsium.
Kristal kalsium oksalat merupakan endapan dari garam oksalat yang jika terakumulasi terlalu banyak akan bersifat racun pada tumbuhan. Berbagai bentuk kristal ditemukan dalam sel tumbuhan. Pada tumbuhan tinggi, kristal kalsium oksalat paling umum di temukan. Kalsium karbonat dan kalsium malat agak langka.
Untuk membedakan sel hewan dengan sel tumbuhan salah satunya dengan adanya dinding sel pada sel tumbuhan. Dinding sel merupakan bagian paling luar dari sel tumbuhan yang dihasilkan oleh protoplas kea rah luar. Lapisan dinding tertua adalah yang terluar, sedangkan bagian termuda adalah yang terdalam, yakni yang berbatasan dengan protoplas. Senyawa yang terutama terdapat di dalamnya adalah selulosa. Senyawa lain adalah hemiselulosa, pectin, protein, serta zat seperti lignin (zat kayu), dan suberin (zat gabus).
Berdasarkan perkembangan dan strukturnya dikenal tiga lapisan dinding, yakni lamela tengah, dinding primer, dan dinding sekunder. Lamela tengah merupakan perekat sel satu dengan sel yang lainnya apabila beberapa sel membentuk jaringan. Dinding primer merupakan dinding yang pertama kali terbentuk dan selama sel dalam fase perkembangan. Dinding sekunder merupakan lapisan yang terbentuk di sebelah dalam dari dinding primer setelah selesai mengadakan pertumbuhan.
Molekul selulosa dalam dinding berhimpun menjadi sejumlah berkas yang disebut mikrofibril. Di beberapa bagian mikrofibril, susunan molekul selulosa sangat teratur. Selulosa merupakan rantai glukosa yang panjang dan tidak bercabang akan menyatu membentuk mikrofibil dan menyusun kerangka dinding sel. Proses penebalan sel dapat terjadi secara aposisi, apabila mikrofibil-mikrofibil tumbuh sejajar dengan mikrofibil-mikrofibil sebelumnya dan dapat juga terjadi secara intususepsi, apabila mikrofibil tumbuh membentuk jalinan dan menyusup diantara mikrofibil-mikrofibil yang lama.
Pembentukan dinding sel baru sebelah dalam fragmoplas terputus di tempat yang masih mengandung RE dan mikrotubul dari kumparan mitosis. Di tempat itu, papan sel berlubang, dan sewaktu dinding menebal, lubang seperti itu bertahan sebagai penghubung antara kedua protoplas yang terbentuk. Lubang itu dilapisi oleh plasmalema baru yang dibentuk oleh vesikula diktiosom. Seluruh struktur disebut pasmodesma (jamak: plasmodesmata).
Tampaknya plasmodesmata dapat dibentuk secara acak, namun yang sering ditemukan itu berkelompok. Sementara dinding sel menebal, mikrofibril selulosa diletakkan diantaranya sehingga plasmodesmata bertambah tebal lagi, sehingga daerah dengan kelompok plasmodesmata dapat dikatakan tipis, disebut lapangan noktah primer.
Noktah adalah tempat sitoplasma sel berhubungan dengan sitoplasma sel di sampingnya. Lapangan noktah primer juga disebut noktah primordial atau noktah primer.
Sumber :
Estiti, H. 1996. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Penerbit ITB, Bandung
Hartanto, L. Purnomo. 2005. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Penebar Swadaya, Depok.

fisiologi hewan

PRAKTIKUM IV
DARAH
A. Tujuan
• Mempelajari metode untuk menghitung jumlah sel darah merah (SDM) dan sel darah putih (SDP).
• Mempelajari metode untuk mengukur kadar Hb darah dengan menggunakan metode sahli .
• Mengetahui dan memahami sistem peredaran darah katak sehingga dapat dibedakan antara pembuluh darah arteri, vena, dan kapiler berdasarkan kecepatan aliran darahnya.
• Memahami bentuk dan struktur sel darah. Membandingkan bentuk dan struktur sel darah katak dan manusia.
B. Dasar Teori
Secara sederhana, darah didefinisikan sebagai fluida (cairan) yang beredar (bersirkulasi) dalam tubuh yang berfungsi mengangkut gas, nutrient, dan bahan sisa metabolisme. Pada vertebrata, darah beredar dalam pembuluh darah, karena itu peredarannya disebut peredaran darah tertutup. Darah manusia mengandung komponen plasma darah (yang terdiri dari 92 % air, protein plasma 7% dan zat-zat terlarut lainnya sekitar 1%) dan elemen-elemen seluler (yang terdiri atas sel darah merah ‘eritrosit’ hampir 99,9% dan sisanya adalah sel darah putih ‘leukosit’ serta keeping darah ‘trombosit’).
Sel darah merah (SDM) atau eritrosit adalah cakram bikonkaf tidak berinti yang kira-kira berdiameter 8µm, tebal bagian tepi 2µm dan ketebalannya berkurang di bagian tengah menjadi hanya 1mm atau kurang (Baldy, Catherine. 2005).
Karena lunak dan lentur maka selama melewati mikrosirkulasi sel-sel ini mengalami perubahan konfigurasi. Komponen utama SDM adalah hemoglobin protein (Hb), yang mengangkut sebagian besar oksigen (O2) dan sebagian kecil karbondioksida (CO2) dan mempertahankan pH normal melalui serangkaian dapur intraseluler (Baldy, Catherine. 2005).
Sel darah merah tidak dapat memproduksi atau melakukan fosforilasi oksidatif sel atau sintesis protein. Sel darah merah mengandung protein hemoglobin yang mengangkut sebagian besar oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh (Corwin, Elizabeth.J.2009).
Sel darah merah adalah jenis sel darah terbanyak. Dalam 1 mm3 darah normal terdapat sekitar 5.000.000 sel darah merah.Sel darah merah telah mengelilingi tubuh sebanyak 75.000 kali (Hutapea, Dr. Albert M. 2005).
Sel darah putih hanya hidup selama 12-13 hari. Dalam keadaan normal, jumlahnya hanya kurang lebih 7000sel/mm3. Sel darah putih berfungsi sebagai serdadu penjaga tubuh dari serangan musuh. Sel darah ini akan berkumpul pada bagian tubuh yang terluka untuk menjaga agar kuman penyakit tidak masuk melalui luka itu. Jika kuman itu tetap berhasil masuk, maka sel darah putih akan memburu kuman tersebut (Hutapea, Dr. Albert M. 2005).
Sel darah putih tidak berwarna, memiliki inti, dapat bergerak secara amoeboid dan dapat menembus dinding kapiler di apdesis. Dalam keadaan normalnya terkandung dalam seliter darah manusia dewasa yang sehat sekitar 7000-25000 sel per tetes (http://id.wikipedia.org/wiki/sel darah putih).
Pada katak mempunyai 2 serambi jantung (atrium) dan satu bilik. Pada serambi jantung, darah yang bersih dan darah yang tidak bersih bercampur. Tetapi, pada waktu pompaan pertama darah yang bersih keluar duluan. Secara fisiologi, kepentingan darah yang utama pada hewan adalah untuk mengangkut bahan makanan dan gas pernafasan, dari bagian permukaan hewan ke berbagai sel yang melaksanakan metabolism di dalam tubuhnya (Goenarso, Darrmadi. 2005).
Darah mempunyai peranan sebagai berikut:
 Pengangkut bermacam-macam substansi yaitu substansi yang mempunyai sangkut paut dengan respirasi yaitu substansi oksigen dan karbondioksida.
 Substansi yang mempunyai sangkut paut dengan ekskresi yaitu zat –zat ampas seperti urea, kreatinin diangkut ke alat-alat ekskresi.
 Substansi yang mempunyai sangkut paut dengan nutrisi yaitu glukosa, asam amino, asam lemak dan gliserol dari usus ke seluruh jaringan tubuh.
 Mengatur keseimbangan asam-basa (pH) darah.
 Mencegah pendarahan
 Merupakan alat pertahanan tubuh
 Mengatur suhu tubuh (Wulangi, 1993).
Sistem peredaran darah katak berupa sistem peredaran darah tertutup dan peredaran darah ganda. Pada sistem peredaran darah ganda, darah melalui jantung dua kali ke dalam satu kali peredaran. Pertama, darah dari jantung menuju ke paru-paru kemudian kembali ke jantung. Kedua, darah dari seluruh tubuh menuju ke jantung diedarkan kembali ke seluruh tubuh. Jantung katak terdiri dari tiga ruang,yaitu dua atrium dan sebuah ventrikel. Diantara atrium dan ventrikel terdapat klep yang mencegah agar darah di ventrikel tidak mengalir lagi ke atrium (http://metamorfosis.htm.diakses pada 03 april 2010 ).
Darah katak terdiri dari plasma darah dan sel-sel ddarah. Plasma darah mengandung air, protein, darah, dan garam-garam dan mineral. Sel-sel darah terdiri dari eritrosit (sel darah merah) serta leukosit (sel darah putih). Eritrosit pada katak memiliki inti dan mengandung hemoglobin untuk mengikat oksigen. Leukosit pada katak juga memiliki inti. Selain memiliki sistem peredaran darah, katak juga memiliki sistem peredaran limfe, sistem peredaran limfe berperan penting dalam pengambilan cairan tubuh ke dalam peredaran darah (http://metamorfosis.htm.diakses pada 03 april 2010 ).
Molekul hemoglobin terdiri dar bagian senyawa cincin yang disebut heme terikat pada molekul protein dan jenis globulin. Molekul heme mengandung atom besi (Fe). Molekul protein sangat bervariasi dan antar spesies hewan berbeda. Bentuk molekul protein ini berbeda pula antara fetus dengan yang terdapat pada dewasanya (Darmadi, Goenarso.2005).















C. Alat dan Bahan

NO Alat Bahan
1 Mikroskop Darah segar
2 Hemositometer Larutan Hayem (untuk percobaan 1)
3 Lancet Alkohol 70%
4 Counter Kapas
5 Cawan Petri Kertas saring
6 Beker glass Larutan Turk (untuk percobaan 2)
7 Objek glass Kecebong (untuk percobaan 3)
8 Kaca Penutup Urethan (untuk percobaan 3)
9 Alat bedah Larutan NaCl 0.6%
10 Syringe Larutan NaCl 0,8%
11 Hb meter sahli Darah katak dan manusia
12 Kloroform
13 Alkohol 96%
14 Anti koagulan Na-sitrat
15 Kapas
16 Alkohol
17 Aquades




D. Cara Kerja
Percobaan 1 ( Menghitung kadar SDM)

Ujung Jari diulas dengan Alkohol 70%

Tusuk dengan lancet hingga darah mengalir

Darah yang keluar hisap dengan pipet skala hingga skala 0,5

Ujung pipet tersebut hisap dengan kertas saring

Hisap dengan larutan hayem hingga tepat skala 1,0

Pipetnya dikocok selama 2 menit dengan ibu jari dan telunjuk

Buang 5 tetes pertama

Letakkan ujung pipet pada objek glass dan kaca penutup hemositometer

Darah di counting chamber diamkan selama 1-2menit

Amati sel darah merah dalam kotak R

Hasil

Percobaan 2 (Menghitung kadar SDP)

Langkah kerja sama dengan percobaan ke satu hanya saja larutannya diganti dengan larutan Turk hingga skala 11, kemudian langkah selanjutnya sama dengan percobaan ke satu.

Percobaan 3 (Aliran Darah)


2-3 ekor kecebong dalam beker glass

Masukkan larutan Urethan 2 %

Hingga kecebong tidak bergerak (di bius)

Pindahkan satu kecebong dala cawan petri

Amati dalam mikroskop pembuluh-pembuluh darah
yang transparan

Perhatikan aliran darah dalam pembuluh

Gambar rangkaian pembuluh darah

Bedakan arteri, vena dan kapiler

Perhatikan kecepatan aliran darah

Perhatikan pada pembuluh, kecepatan aliran darah yang konstan
dan yang tidak konstan


Percobaan 4 (Mengukur kadar Hb darah)

Masukkan larutan 0,1 HCl

Masukkan ke dalam tabung sahli skala 5

Ujung jari basahi dengan alcohol

Tusuk dengan lancet hingga darah keluar

Hisap darah tersebut dengan pipet sahli hingga skala 0,5

Masukkan ke dalam tabung HCl

Bilaslah pipet dengan menghisap larutan dalam tabung

Tabung yang berisi HCl dan darah di tempatkan pada statitnya

Biarkan tabung selama 1 menit

Tambahkan larutan aquades hingga warna larutan standar

Baca tinggi permukaan miniskus

Angka yang di tunjukan pada tubing merupakan nilai % Hb atau
g Hb/ 100ml darah




Daftar Pustaka
• Hutapea, Dr. Albert.M. 2005. Keajaiban - keajaiban dalam tubuh manusia. Gramedia: Jakarta
• Corwin, Elizabeth. J. 2009. Patofisiologi. EGC : Jakarta
• Baldy, Chaterine. M. 2005. Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta
• http://cybermed.cbn.net.id/
• http://metamorfosis.htm.diakses pada 03 april 2010
• http://id.wikipedia.org/sel darah merah

fisiologi hewan

PRAKTIKUM III
EKSKRESI
A. Tujuan :
• Memeriksa kandungan glukosa, albumin, khlorida dalam urin
• Mengenal bau ammonia dari hasil penguraian urea dalam urin
• Membuktikan kandungan urea dalam urin
B. Dasar Teori
Sistem Ekskresi merupakan sistem yang berperan dalam proses pembuangan zat-zat yang sudah tidak diperlukan (zat sisa) ataupun zat-zat yang membahayakan tubuh dalam bentuk larutan. Ekskresi terutama berkaitan dengan pengeluaran senyawa-senyawa nitrogen. Selama proses pencernaan makanan, protein dicernakan menjadi asam amino dan di absorbs oleh darah, kemdian digunakan oleh sel-sel tubuh untuk membentuk protein-protein baru. Di dalam tubuh vertebrata, asam amino yang berlebihan akan dirombak menjadi ammonia dan di ekskresikan lewat ginjal sebagai senyawa-senyawa ammonium sulfat, ammonium fosfat, urea asam urat atau trimethylamine, semua zat sisa yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh sebagian akan di keluarkan bersama urin.
Manusia memiliki organ atau alat ekskresi yang berfungsi membuang zat sisa hasil metabolisme. Zat sisa hasil metabolisme merupakan sisa pembongkaran zat makanan, misalnya: karbondioksida (CO2), air (H2O), ammonia (NH3), urea, dan zat warna empedu. Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dan harus di keluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan penyakit. Organ atau alat ekskresi pada manusia terdiri dari: Paru-paru; Hati; Kulit; Ginjal (Campbell, 2004).
Osmoregulasi erat sekali hubungannya dengan sistem ekskresi. Pengaturan osmosis dalam tubuh manusia terjadi melalui banyak sedikitnya air yang dibuang melalui keringat dan urin. Kehilangan air karena penguapan diatasi dengan reabsorpsi air. Hal ini dapat terjadi karena lengkung henle ukurannya relative panjang sehingga penyerapannya air oleh ginjal bertambah selain itu konsentrasi ADH tinggi (Pratiwi, D.A, 2004).
Proses pembentukan urin dalam ginjal dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap filtrasi (penyaringan), tahap reabsorpsi (penyerapan kembali), dan augmentasi (pengeluaran zat) (Pratiwi, D.A, 2004).
• Penyaringan (Filtrasi)
Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapiler glomerulus, sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan, selain penyaringan di glomerulus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel darah , keeping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan yang kecil terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, dan urea dapat melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrate glomerulus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya (Djamhur,1985).
• Penyerapan kembali
Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urine primer akan di serap kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya zat-zat pada tubulus ini melalui dua cara yaitu gula dan asam amino yang meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksinal dan tubulus distal substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino dikembalikan lagi ke darah. Zat ammonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam dan bahan lain pada filtrate di keluarkan bersama urin, stelah terjadi reabsorpsi maka tubulus mengasilkan urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi, Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolism yang bersifat racun bertambah misalnya urea (Djamhur, 1985).
• Augmentasi
Urin sekunder dari tubulus kontortus distal akan turun menuju tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul ini masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urin sesungguhnya. Dari tubulus pengumpul, urin di bawa ke pelvis renalis, dari pelvis renalis, urin mengalir melalui ureter menuju vesika urinaria (kandung kemih) yang merupakan tempat penyimpanan sementara urin (Pratiwi, D.A, 2004).
Hal-hal yang mempengaruhi produksi urin yaitu :
• Zat-zat dieurtik
Misalnya terdapat pada kopi, the, dan alcohol maka zat tersebut akan menghambat reabsorpsi ion Na+.
• Suhu
Jika suhu internal dan external naik di atas normal maka kecepatan respirasi meningkat dan pembuluh kutaneus melebar sehingga cairan tubuh berdifusi dari kapiler ke permukaan kulit
• Konsentrasi darah
Konsentrasi air dan larutan di dalam darah berpengaruh terhadap produksi urin, jika kitak tidak minum seharian maka konsentrasi air di darah menjadi rendah.
• Emosi
Emosi tertentu dapat merangsang peningkatan dan penurunan volume urin (Pratiwi, D.A 2004).
C. Alat dan Bahan
Alat Bahan
Tubing Reaksi Sampel urin
Pipet tetes Larutan Benedict
Bunsen Larutan AgNO3 10%
Kaca objek Asam Oksalat
Asam nitrit pekat
Larutan Hipobromida



D. Cara Kerja
• Glukosa dalam urin
2,5 ml larutan benedict dalam tabung reaksi

didihkan dan tambah 4 tetes urin

panaskan lagi kemudian amati endapannya.

Hasil
• Albumin dalam urin
1,5 asam nitrat

masukkan urin 10 tetes

tutup tabung dengan kertas putih

miringkan tabung reaksi

Hasil
• Klorida dalam urin
urin 3 ml dalam tubing reaksi

tambahkan AgNO3 sebanyak 5 tetes

amati endapan putih yang terjadi

hasil
• Amonia dalam urin
1 ml urin dalam tabung reaksi

panaskan di atas Bunsen

cium baunya

fisiologi hewan

ENZIM DAN KERJA ENZIM
A. TUJUAN :
• Mengetahui kerja enzim pada proses pencernaan di dalam mulut
• Mengukur kerja enzim amilase dalam beberapa lingkungan suhu yang berbeda
B. DASAR TEORI
Kegiatan kimiawi yang dilakukan oleh sel amatlah rumit. Hal ini mudah dimengerti bila mengingat demikian beragamnya bahan yang digunakan sebagai nutrient oleh sel satu pihak dan berbagai ragam substansi yang disintesis menjadi komponen-komponen sel di pihak lain. Bagaimanakah caranya sel melakukan kegiatan ini? Jawabannya terletak pada kerja enzim, substansi yang ada pada sel dalam jumlah amat kecil dan mampu menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang berkaitan dengan proses-proses selular (dan kehidupan). Tak mungkin ada kehidupan tanpa adanya enzim.
Enzim adalah protein spesifik yang berfungsi sebagai biokatalisator (mempercepat proses hidrolisis) sebagai katalisator, enzim harus bersifat efektif (dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit dibandingkan jumlah substrat), tidak ikut serta dalam proses reaksi (sifat dan jumlah tidak berubah), dapat kembali pada akhir reaksi dan bersifat spesifik.
Dapat diketahui pula bahwa enzim terdiri atas bagian yang berupa protein dan bagian lain yang bukan protein. Bagian yang berupa protein biasanya bersifat termolabil(tidak tahan panas) yang disebut dengan Apoenzim. Bagian yang bukan protein adalah bagian yang aktif dan diberi nama gugus protestik, biasanya berupa logam, seperti besi, tembaga, seng, atau suatu bahan senyawa organic yang mengandung logam. Apoenzim dan gugus protestik merupakan satu kesatuan yang disebut holoenzim.
Khasnya, satu molekul enzim dapat mengkatalisis perubahan 10 sampai 1000 molekul substrat (senyawa yang dikenai proses perubahan oleh enzim) perdetik. Reaksi-reaksi yang dikatalisis oleh enzim seringkali berlansung beberapa ribu sampai lebih dari satu jua kali lebih cepat daripada reaksi-reaksi yang sama tapi tidak di katalisis oleh enzim.
Molekul–molekul enzim amatlah efisien dalam mempercepat pengubahan substrat menjadi produk akhir. Kemampuan ini, serta kenyataan bahwa enzim tidak dikonsumsi ataupun mengalami perubahan, menerangkan mengapa enzim dalam jumlah yang amat sedikit sudah cukup bagi proses-proses selular.
Untuk dapat bekerja terhadap suatu zat atau substrat harus ada hubungan atau kontrak antara enzim dengan substrat. Tempat atau bagian enzim yang mengadakan hubungan atau kontrak dengan substrat dinamai bagian aktif (active site). Hubungan hanya mungkin terjadi apabila bagian aktif mempunyai ruang yang tepat dapat menampung substrat.
Cara kerja enzim ada dua macam, yaitu dengan model kunci gembok dan induk pas.
a) Kunci gembok (lock and key)
Enzim dimisalkan sebagai gembok karena memiliki sebuah bagian kecil yang dapat berikatan debgan substrat. Bagian tersebut disebut sisi aktif. Substrat dimisalkan sebagai kunci karena dapat berikatan secara pas dengan sisi aktif enzim (gembok).
b) Induksi pas (induced fit)
Pada model ini, sisi aktif enzim dapat berubah bentuk sesuai dengan bentuk substrat.
Ada empat factor yang mempengaruhi kerja enzim, yaitu temperature, pH, konsentrasi, dan inhibitor.
a. Temperature atau suhu
Enzim adalah suatu protein, maka kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya denaturasi, maka bagian aktif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya pun akan menurun.
Temperature atau suhu yang rendah dapat menghambat reaksi. Pada umumnya, temperature optimum enzim 30°-40°C. Kebanyakan enzim tidak menunjukan reaksi jika suhu turun sampai 0°C, namun enzim tidak rusak. Jika suhu normal kembali, maka enzim akan aktif kembali. Enzim tahan pada suhu rendah, namun dapat rusak di suhu 50°C.
b. Perubahan pH
Struktur ion enzim tergantung pada pH lingkungannya. Enzim dapat berbentuk ion negative atau ion positif atau ion bermuatan ganda (zwitter ion). Di samping pengaruh terhadap struktur ion pada enzim, pH rendah atau pH tinggi dapat pula menyebabkan terjadinya proses denaturasi dan ini akan mengkibatkan menurunnya aktivitas enzim.
c. Konsentrasi enzim dan substrat
Perbandingan jumlah antara enzim dan substrat harus sesuai. Jika enzim terlalu sedikit dan substrat terlalu banyak, reaksi akan berjalan lambat dan bahkan ada substrat yang tak terkatalisasi.
d. Inhibitor enzim
Sering kali kerja enzim dihambat oleh suatu zat yang disebut inhibitor. Ada dua jenis inhibitor, yaitu inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif.
Pengolongan enzim dengan diakhiri –ase, ada enam golongan yaitu:
Golongan I Oksidoreduktase
Enzim-enzim yang termasuk dalam golongan ini dapat dibagi dua bagian yaitu dehidrogenase dan oksidase.
Golongan II Transferase
Enzim yang termasuk golongan ini bekerja sebagai katalis pada reaksi pemindahan suatu gugus dari suatu senyawa kepada senyawa lain. Salah satu enzim yang termasuk golongan ini adalah metiltransferase.
Golongan III Hidrolase
Enzim dalam kelompok ini bekerja sebagai katalisis pada reaksi hidrolisis. Beberapa enzim sebagai contoh ialah esterase, lipase dan amylase.
Enzim amylase dapat memecahkan ikatan-ikatan pada amilum hingga terbentuk maltose. Ada tiga macam enzim amylase yaitu α amylase, β amylase, Yamilase.
α amylase terdapat pada saliva dan pankreas.
Golongan IV Liase
Enzim yang termasuk golongan ini mempunyai peranan penting dalam reaksi pemisahan suatu gugus dari suatu substrat (bukan cara hidrolase) contohnya aldolase.
Golongan V Isomerase
Enzim yang termasuk golongan ini bekerja pada reaksi perubahan intermolekuler, misalnya reaksi perubahan glukosa menjadi fruktosa.
Golongan VI Ligase
Enzim yang termasuk golongan ini bekerja pada reaksi-reaksi penggabungan dua molekul.
C. Alat dan Bahan
NO Alat Bahan
1 Pipet Saliva
2 Tabung reaksi Larutan amilum
3 Beker glass 25 ml Larutan iod
4 Batang pengaduk kaca Larutan benedict
5 Gelas ukur Es dan air es
6 Plat tetes Kue cracker asin
7 Lumping dan alu porselin
8 Bunsen spirtus+ kaki tiga+ kasa
9 Termometer
10 Water bath

D. Cara kerja
• Kerja amylase pada proses pencernaan di mulut

2 buah kue cracker

Sebagian dikunyah dan sebagian lagi di tumbuk

Hasil kunyahan dan tumbukan simpan di plat tetes

Tetesi larutan iod 5 tetes pada kedua sampel

Uji iod pada interval waktu pengunyahan 0 detik,
2 menit, 4 menit, 6 menit, 8 menit, 10 menit
↓ amati perubahan
Hasil



• Kerja enzim amylase pada beberapa suhu lingkungan
Saliva 2ml

Homogenisasi

6 buah tabung reaksi masukkan 20 ml amilum

Kemudian diatur suhu dan lingkungannya

Tb 1 pada suhu 5°C (es), Tb 2 pada suhu 15°C (air es),
Tb 3 pada suhu 25°C (suhu ruang), Tb °4 pada suhu 35°C (water bath),
Tb 5 pada suhu 45°C (Bunsen), Tb 6 pada suhu 55°C (Bunsen)

Biarkan 10 menit dan masukkan 0,5 saliva pada masing-,asing tabung

Catat waktunya dengan interval waktu 2 menit

Uji benedict dan uji iod pada larutan amilum

Catat titik akromatisnya pada ke 6 suhu

Selama percobaan tabung tidak blh keluar dari water bath dan suhunya harus konstan

Buat grafik hubungan antara temperature dan enzim

Tentukan grafik suhu optimum untuk kerja amylase

Diskusi apabila hasil tidak sesuai dengan harapan